Monday, 21 March 2011

Welcome to the Club - by suhendi


 

Selamat bergabung di klub entrepreneurship.

 

Di Amerika Serikat dalam setiap sebelas detik lahir seorang entrepreneur baru berikut dengan perusahaannya. Data menunjukkan satu dari 12 orang Amerika terlibat langsung dalam kegiatan entrepreneur. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya entrepeneur telah melahirkan produk dan jasa yang inovatif, menciptakan lapangan pekerjaan baru, membuka peluang ekspor, dan tentunya semakin mengukuhkan posisi ekspor dan tentunya semakin mengukurkan posisi Amerika dalam kancah perekonomian dunia.

 

Masa depan bisnis entrepreneur digambarkan akan terus cemerlang. Fenomena yang juga menarik untuk dicermati adalah kecenderungan perusahaan raksasa di Amerika, untuk terus merampingkan perusahaan mereka. Kenyataan ini juga ikut memicu tumbuhnya entrepreneur baru, entrepreneur yang kaya akan pengalaman bisnism dan masih berada dalam usia produktif. Fenomena downsizing ternyata juga menyebabkan berubahnya pandangan Generesi X (mereka yang dilahirkan antara tahun 1965 – 1980-red) tentang entrepenuer, mereka tidak lagi melihat entrepneur sebagai jalur karir yang penuh risiko, namun mereka lebih melihat entrepeneur sebagai sebuah cara untuk menciptakan usaha yang “aman” dan tentu saja untuk menjadi bagian dari kesuksesan ala “American Dream”.

 

25 tahun yang lalu memang masih kondusif untuk menciptakan usaha dengan skala yang besar, dengan dukungan jajaran karyawan dalam jumlah yang massive. Namun sekarang kenyataan berkata lain, saat ini dibutuhkan perusahaan yang mampu menyikapi perubahan dengan cepat, cekatan, dan cerdas, dan ketiga hal ini akan lebih mudah diwujudkan oleh perusahaan yang tidak terlalu besar. Perusahaan yang dirintis oleh para entrepreneur termasuk perusahaan seperti ini, sehingga mereka dapat dengan mudah masuk ke dalam berbagai segmen pasar, mereka dapat dengan cepat mencium dan mewujudkan kesempatan menjadi keuntungan, mereka dapat memanfaatkan teknoligi dengan baik, dan mereka dapat menciptakan produk atau jasa hanya dalam hitungan minggu atau bulan saja. Bandingkan dengan perusahaan besar yang kadang membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk dapat mewujudkan gagasan yang sama. ‘Howard Stevenson, Profesor Entrepeneur dari Harvard University mengatakan, ”Why is it so easy (for small companies) to compete against giant corporation? Because while they (giant corporation) are studying the consequences, (entrepreneur) are changing the world”

 

Namun demikian keputusan untuk melangkah ke dalam dunia entrepeneur adalah keputusan untum memasuki dunia yang penuh keterkejutan, dunia yang sangat menakukan, dunia yang penuh tantangan, atau dunia yang sarat akan risiko.

Dengan kata lain, membuka bisnis baru sama sekali tidak mudah, namun ganjaran yang ditawarkannya memang sepadan, baik secara financial maupun psikologis. Bahkan seorang penulis pernah mengatakan, “memasuki dunia entrepenuer ibarat memasuki dunia yang tidak memiliki jaring pengaman, menegangkan sekaligus berbahaya.”

 

Berbagai pertanyaan kemudian mengemuka, siapakah mereka yang menyebutkan diri mereka entrepreneur?, apa yang membuat mereka bekerja demikian keras, walaupun tidak pernah ada yang menjamin hal itu akan membuahkan kesuksesan?, kekuatan apa yang membuat mereka berani mengambil risiko yang sangat besar, dan berkorban banyak hal demi mencapai sebuah idealisme?

 

 

Binatang apakah Entrepreneur itu?

 

Entrepreneur adalah mereka yang mampu menciptakan bisnis baru, dan mereka biasanya langsung berhadapan dengan risiko dan ketidakpastian dalam mencapai kesuksesan. Entrepeneur adalah mereka yang mampu mengidentifikasi berbagai kesempatan, dan mencurahkan seluruh sumber daya yang mereka miliki, untuk mengubah kesempatan itu menjadi sesuatu yang menguntungkan. Banyak orang yang datang dengan ide bisnis yang sangay menakjubkan, namun sedikit sekali dari mereka yang berupaya menwujudkannya menjadi kenyataan, entrepreneur adalah mereka yang berani mewujudkan ide menjadi kenyataan. Para peneliti selang satu dekade terakhir berupaya merumuskan gambaran kepribadian seorang entrepreneur. Berikut adalah uraiannya :

 

1.   Desire for responsibility.

Setiap entrepreneur biasanya memiliki rasa tanggung jawab yang besar, terlebih kepada usaha yang baru dirintisnya.

 

2.   Preference for moderate risk

Entrepreneur bukanlah seseorang yangsecara serampangan mengambil risiko, namun lebih sebagai seseorang yang sangat memperhitungkan risiko. Mereka jarang sekali bersikap untung-untungan. Target yang mereka ingin capai seringkali tinggi, bahkan untuk beberapa orang target tersebut dirasakan tidak mungkin diwujudkan, namun sekali lahi seorang entrepreneur adalah mereka yang mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, dan mereka yakin bahwa target tersebut sangat realistik dan dapat diwujudkan. Entrepreneur biasanya melihat peluang bisnis, yang biasanya merupakan perpaduan dari pengetahuan, latar belakang, dan pengalaman mereka, dan ketiga hal ini semakin mempertinggi peluang mereka untuk mencapai kesuksesan.

 

3.   Confidence in their ability to succeed.

Entrepreneur seringkali memiliki rasa percaya diri yang melimpah. Mereka berusaha untuk senantiasa optimis dalam menyikapi peluang mereka dalam menggapai sukses. Sebauh studi yang digelar oleh National Federation of Independent Business (NFIB) mengemukakan seperti entrepreneur merasa memiliki peluang sukses sebesar 100%. Angka optimisme yang tinggi ini meyakinkan kita, mengapa seringkali kita melihat para entrepreneur yang sukses terlebih dahulu mengalami berbagai kegagalan, hingga akhirnya mereka berhasil menggapai kesuksessan.

 

4.   Desire for immediate feedback

Entrepreneur menikmati tantangan ketika membangun bisnis, dan mereka sangat ingin mengetahui bagaimana tanggapan orang lain tentang cara yang mereka sedang jalankan, dan untuk itu mereka senang sekali  jika mendapat masukkan dari orang lain.

 

5.   High level of energy.

Entrepreneur terkesan memiliki energi yang lebih besar dibandingkan dengan orang kebanyakan. Energi ini menjadi faktor yang sangay krusial, terlebih ketika sebuah bisnis baru dijalankan, karena jam kerja yang tak mengenal waktu dan kerja keras telah menjadi sebuah peraturan yang harus dijalankan, ketimbang sebagai sebuah pengecualian.

 

6.   Future orientation

Entrepreneur diberkahi kemampuan yang baik dalam melihat sebuah peluang. Ketika melihat ke depan, mereka tidak begitu peduli dengan apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, dan mereka lebih peduli untuk memikirkan apa yang hendak mereka lakukan esok hari. Entrepreneur melihat sebuah potensi, ketika orang lain melihatnya sebagai masalah semata, kenyataan inilah yang seringkali membuat orang awam melihatnya sebagai ide yang terkesan “main-main”. Ketika para ‘manajer tradisional’ hanya berkonsentrasi untuk memanajemeni sumber daya yang tersedia, entrepreneur lebih tertarik untuk mencari peluang dan membuatnya menjadi keuntungan.

 

7.   Skill at organizing.

Membangun sebuah bisnis dari awal, memang layaknya menyusun puzle raksasa secara bersama-sama. Entrepreneur yang baik pandai menempatkan orang yang tepat pada bidang pekerjaan yang sesuai, memudahkan para entrepreneur mewujudkan impiannya menjadi kenyataan.

 

8.   Value of achievement over money.

Ada yang mengatakan entrepreneur dalam menjalankan bisnisnya semata didorong oleh keinginan mereka, untuk menghasilkan keuntungan sebanyak-sebanyaknya, ini adalah pandangan yang keliru tentang entrepreneur, padahal yang menjadi kekuatan utama mereka dalam menjalankan bisnisnya adalah sebuah pencapaian kesuksesan, dan uang hanyalah sebuah simbol untuk menandakan sebuah pencapaian telah berhasil dicapai atau belum.
 
Keuntungan menjadi Entrepreneur

Berikut adalah beberapa keuntungan yang dapat diraih jika memiliki bisnis sendiri. Tampaknya ini perlu dikemukakan sebagai lecutan untuk segera memutuskan: Apakah Anda seumur hidup lebih senang hanya menjadi karyawan, atau menjadi pemilik bisnis Anda sendiri. Percayalah persoalan utama dalam hidup ini hanya masalah memilih.

 

Menciptakan Tujuan Hidup sendiri.

Memiliki bisnis sendiri berarti menciptakan kebebasan bagi entrepreneur, dan juga kesempatan untuk menggapai apa yang menurut mereka penting dalam hidup ini. Kate Spade, seorang editor di Mademoiselle pada 1993 memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Bersama suaminya ia membangun bisnis aksesoris. “Kami ingin mengejar tujuan hidup kami sendiri,” ujar Kate tentang keputusannya. Saat ini bisnis Kate berkembang pesat. Outletnya telah tersebar dari New York hingga Tokyo. Omzet penjualan Kate Spade Inc telah mencapai US $ 30 Juta.

 
Menciptakan Perbedaan

Kecenderungan belakangan ini seprang entrepreneur memulai bisnis mereka karena ingin membuat perubahan. Mereka ingin menciptakan sesuatu yang berbeda. Sebut saja mereka ingin membangun usaha di bidang properti, yang akan membangun perumahan murah untuk keluarga miskin di negera berkembang, atau menggagas program daur ulang untuk menyelamatkan sumber daya bumi yang kian menipis. Seorang entrepreneur dengan caranya sendiri menemukan jalan untuk mengkombinasikan antara kepedulian mereka terhadap isu-isu sosial, dan keinginan mereka untuk menikmati hidup yang lebih baik.

 

Salah satu contohnya adalah Steve Row. Ketika tinggal di daerah pinggiran South Carolina, USA, ia selalu memperhatikan pembangunan perumahan di sekitar tempat tinggalnya. Bukanlah tetangga baru yang memusingkan Steve, melainkan banyaknya limbah kayu yang tidak termanfaatkan.

 

Setelah mendapat ijin para kontraktor, Steve mengambil sendiri limbah kayu yang ia inginkan. Steve mulai membuat berbagai furnitur dari kayu limbah tersebut. Dewasa ini perusahaannya, Sun Garden Furniture, membuat dan menjual berbagai furnitur dengan model unik, seperti meja, lemari hingga pagar kayu. Semuanya dibuat dari limbah kayu yang didapat dari berbagai lokasi pembangunan di AS.

 
Mencapai Potensi Puncak

Banyak orang yang mengerjakan tugas yang dibebankan perusahaan kepadanya dengan perasaan terpaksa. Mereka merasa pekerjaannya membosankan, tidak menantang dan tidak menarik. Hal seperti itu tidak pernah menimpa seorang entrepreneur. Di mata entrepreneur hanya sedikit perbedaan antara bekerja dan bermain, bahkan ada yang menyamakan arti dari dua kata yang berbeda tersebut.

 

Lahan pekerjaan yang ditekuni oleh entrepreneur tidak lain adalah sarana mereka untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri. Mereka sangat sadar keberhasilan mereka sangat ditentukan oleh kecakapan mereka dalam berkreasi rasa antuasias yang tinggi serta visinya.

 

“Saya ingi berada pada situasi dimana perkembangan bisnis saya hanya dibatasi oleh bakat dan daya upaya yang saya miliki,” ujar Tim Mc.Donald yang mulai berbisnis sendiri sejal usia 31 tahun.

 

Keuntungan Tanpa Batas.

Uang bukanlah dorongan utama seorang entrepreneur menjalankan bisnisnya. Uang dapat menjadi faktor yang memotivasi seseorang untuk memulai membangun bisnisnya. Kebanyakan entrepreneur memang tidak pernah menjadi super kaya, namun kebanyak dari mereka telah pantas menyandang gelar “cukup kaya”. Bahkan 75% dari 400 orang Amerika terkaya versi Majalah Forbes, adalah mereka yang kita kenal sebagai entrepreneur.

 

Menurut riset Thomas Stanley dan William Danko, para pemilik self-employed business termasuk 2/3 dari milyuner AS. Seorang entrepreneur memiliki kesempatan empat kali lebih besar untuk menjadi milyuner, daripada seseorang yang bekerja untuk orang lain.

 

Kontribusi kepada Masyarakat.

Tidak dapat dipungkiri seorang entrepreneur yang telah memiliki usaha sendiri termasuk kelompok yang paling dihargai dan paling dipercaya oleh masyarakat. Bisnis yang mereka jalankan didasarkan atas rasa percaya dan saling menghargai. Para entrepreneur ini menikmati kepercayaan dan penghargaan yang ditunjukkan oleh para pelanggan mereka, sebagai buah dari pelayanan tulus yang mereka berikan selama bertahun-tahun.

 

Entrepreneur ini kemudian juga memegang peran penting dalam sistem perekonomian. Mereka juga sadar kiprah mereka sebagai entrepreneur, telah memberikan kontribuasi terhadap perekonomian nasional, adalah penghargaan lainnya yang didapatkan oleh seorang entrepreneur sukses.

 

 

Mengerjakan yang Anda Sukai.

Salah satu kesepakatan di antara sesama entrepreneur adalah mereka tidak menganggap pekerjaan yang mereka geluti sebagai sebuah pekerjaan. Kebanyakan entrepreneur yang sukses adalah mereka yang berhasil memilih bidang bisnis karena mereka memiliki ketertarikan dalam bisnis tersebut. Mereka menikmati bidang pekerjaan tersebut. Selama bekerja mereka melakukan avocation (hobi) sekaligus mengerjakan vocation (work).

 

Para entrepreneur ini menjadikan apa yang disarankan oleh Harvey McKay menjadi kenyataan: “Temukanlah pekerjaan yang Anda cintai, maka Anda tidak perlu bekerja seharipun dalam hidup Anda.”

Dan ini tidak berlebihan karena di mata entrepreneur pekerjaan adalah pekerjaan adalah kegemaran (avocation) ketimbang pekerjaan (work).

 
Sisi Gelap Entrepreneurship

Berikut adalah beberapa “ancaman” yang membayangi seseorang entrepreneur, ketika mereka baru saja memasuki gerbang entrepreneurship. Pastikan Anda telah mengetahui “ancaman bahaya” yang akan Anda hadapi, sehingga jika memang Anda dan Bisnis Anda ditakdirkan untuk berhadapan dengan masalah-masalah tersebut, Anda mampu untuk merancang solusi yang tepat.

 
Pendapatan yang Tidak Pasti

Membuka dan menjalankan bisnis sendiri berari memasuki arena yang tidak akan pernah menjamin Anda mendapatkan pendapatan yang cukup untuk membuat Anda survive (bertahan) di bisnis ini. Bahkan pada tahap awal, sang pemilik yang biasanya juga merangkap sebagai manajer, tidak mendapatkan penghasilan yang sepadan dengan segala jerih payahnya.

 

Banyak entrepreneur yang pada tahap awal berhadapan dengan masalah keuangan. Ada yang bisa bertahan dengan tabungan yang mungkin mereka masih miliki. Anda harus ingat, sebagai pemilik usaha, Anda adalah orang terakhir yang menerima gaji (itu pun jika masih ada yang bisa dibagi!).

 
Risiko kehilangan seluruh investasi

Angka kegagalan small business di AS relatih tinggi. Berdasarkan riset terakhir, 24% bisnis skala kecil dan menengah tutup dalam jangka waktu dua tahun. Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya jika Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, siapkan Anda secara psikologis untuk menghadapi kegagalan. Pertanyaan-pertanyan berikut tampaknya perlu direnungkan.

§  Dampak terburuk apa yang mungkin akan menimpa saya, jika saya membuka bisnis dan ternyata berujung pada kegagalan?

§  Apa yang dapat saya lakukan untuk meminimalisasi risiko gagal?

§  Jika ternyata bisnis saya harus gagal, apa rencana “cadangan” yang dapat saya persiapkan untuk menanggulangi kegagalan tersebut?

 
Banting Tulang dan Tak Kenal Waktu

Bisnis yang baru berjalan seringkali meminta sang pemilik untuk menggunakan ‘nightmarish schedule” (Jadwal kerja yang sangat padat). Betapa tidak, berdasarkan hasil survai, rata-rata dalam seminggu seorang pemilik usaha baru menghabiskan waktu tingga 56 jam.

 

Pada banyak bisnis yang baru saja dirintis, 6 hingga 7 hari bekerja dalam setiap minggunya adalah sebuah hal yang biasa. Berdasarkan riset yang digelar oleh American Express, tidak kurang dari 29% entrepreneur tidak memiliki rencana untuk berlibur di musim panas. Alasan utama mereka adalah karena mereka merasa sangat sibuk.

 

Para entrepreneur itu merasa ketika mereka menutup sementara usahanya (untuk kepentingan berlibur misalnya), itu sama saja dengan menghentikan pendapatan atau keuntungan. Mereka yakin pelanggan akan pergi ke tempat lain jika mereka menutup sementara bisnisnya.

 

Kualitas Hidup Rendah (sebelum bisnis Anda sukses)

Seorang entrepreneur yang juga merupakan pemilik bisnis seringkali menemukan perannya sebagai suami atau sebagai seorang istri, atau sebagai seorang ayah atau sebagai ibu, agak sedikit tergeser dengan peran barunya sebagai seorang pendiri perusahaan. Salah satu penyebabnya adalah kenyataan bahwa sebagai besar dari mereka merintis bisnis pada usia yang relatif muda atau dengan kata lain sesaat setelah mereka memutuskan berumah tangga (usia antara 25 – 39 tahun). Sebagai akibatnya seringkali sebuah persahabatan atau bahkan sebuah perkawinan tanpa sadar sering ‘dikorbankan’ demi kesuksesan bisnis yang mereka sedang rintis.

 
Stress Berat

Memulai bisnis baru sekaligus mengelolanya, selain dapat membuatkan pengalaman yang sangat berarti, namun juga dapat menyebabkan stress berat. Seringkali ditemukan seorang entrepreneur mengerahkan seluruh kemampuan finansialnya ketika memulai bisnis. Tak ayal mereka juga menggunakan seluruh dana tabungan yang mereka miliki, bahkan apapun mereka jaminkan untuk mendapat kredit bank.

 

Jika ternyata kegagalan yang justru menghampiri mereka, itu sama saja dengan kehancuran total finansial sang entrepreneur. Tentu saja kehancuran ini akan menciptakan stress yang berat dan kegelisahan yang mengkhawatirkan.

 
Tanggung Jawab Besar

Memang menyenangkan menjadi bos, namun seringkali para debutan bos ini berhadapan dengan pembuatan keputusan, pada masalah yang sebenarnya tidak mereka kuasai. Ketika mereka tidak menemukan tempat untuk bertanya, tekanan dengan sendirinya akan memuncak. Dilema pada kenyataan bahwa keputusan itu akan berujung pada sebuah kesuksesan atau sebalinya, pada individu tertentu akan menimbulkan dampak yang cukup menghancurkan.

 

Putus Asa

Merintis sebuah usaha jelas sangat membutuhkan dedikasi total, disiplin, dan keuletan. Dalam usaha membawa bisnis menuju sukses, sang entrepreneur akan berhadapan dengan berbagai hambatan, dan ada diantaranya yang sangat sulit untuk diatasi.

Ketika berhadapan dengan masalah-masalah tersebut, keputusasaan atau rasa kecewa yang memuncak adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Seorang entrepreneur yang sukses, sangat mahfum setiap bisnis pasti akan berhadapan denga berbagai masalah, dan mereka dapat melewati masa-masa sulit tersebut, hanya dengan mengandalkan semangat yang tak kenal menyerah dan persediaan optimisme yang berlimpah.

 

[1] Diambil dari Sisipan Bonus Majalah Manajemen Agustus 2004 dengan sedikit perubahan

No comments:

Post a Comment